Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 10 Januari 2013

Kumpulan Cerpen


Pengagum Bintang

Senja berlalu seiring tenggelamnya sang surya, taburan bintang menghiasi cerahnya langit di malam ini. Hembusan angin menerpa setiap raga, merasuk nadi dan darah yang membeku oleh nuansa dingin. Lembar demi lembar daun berjatuhan membentuk pola hujan menambah indahnya malam oleh sinar remang sang bulan. Di sudut jatuhnya sinar, terlihat rumah yang terbuat dari bambu, sebuah rumah yang dihuni oleh seorang ibu yang bernama ibu Fatimah, dia tinggal bersama putrinya yang bernama bintang, seorang gadis yang diharapkan bisa bersinar layaknya sang bintang. Bintang tidak seperti teman sebanya, dia lebih cenderung berdiam diri di rumah, karena dia merasa malu dilahirkan oleh seorang ibu yang hanya bekerja sebagai tukang sapu di rumah sakit Puspa Sahda yang berada di dekat rumahnya. Luapan hati yang tak terbendung, membawanya pada sebuah keinginan untuk merubah roda kehidupan. Angan yang digulir rasa harap yang tinggi, seakan selalu membayanginya bermimipi untuk terbang tinggi mengepakkan sayap layaknya merpati.
Bintang duduk didepan rumahnya menatap rembulan, berharap mimpinya menjadi kenyataan.”betapa indahnya Bintang langit itu, gemerlap, kosong, seperti tak ada beban yang menyentuhnya”.desah Bintang dalam hatinya. Tetapi Bintang sadar bahwa Allah selalu membimbingnya, di setiap sudut kamar Bintang terasa sunyi, beda halnya ketika Bintang membuka jendela, terlihat ada sosok yang lagi mengintainya dari kejauhan.
***
          Ketika sang mentari mucul, bintang terbangun dari mimpinya. Dia segera bergegas untuk pergi ke sekolah, meskipun dalam benaknya, bintang ingin mengeluh karena merasa tidak pantas satu sekolah dengan teman-teman yang tergolong dari keluarga atas, maklumlah sekolah bintang merupakan sekolah paling elit di daerah tersebut. Tetapi, bagaimanapun bintang harus tetap melangkah karena Bintang mendapatkan beasiswa di Sekolahnya.
          Setelah sampai di depan kelas, ingin sekali bintang menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Reysa, yang baginya adalah benalu di sekolah.
“Eh….bintang, ngapain kamu masuk ke kelas ini?”ujar Reysa dengan tatapan sengitnya, tetapi bintang hanya bisa menunduk tanpa berani membela dirinya sendiri.
“ sudahlah reys, jangan ganggu bintang terus,” Bela Rohan teman kelas Bintang, yang setiap harinya merupakan sosok malaikat yang tak pernah lelah membela bintang. Hal ini membuat reysa semakin marah, karena cowok idamannya lebih memilih membela bintang.
“wah…lo Cuma kasian kan han ngeliat si anak tukang sapu ini,” Cetus reysa, seakan matanya sudah seperti api merah yang siap melalap bintang.
“terserah apa katamu.” Tegas rohan. Secercah senyuman tersungging di bibir bintang, ketika rohan cowok paling keren di Sekolahnya membelanya.”hem…..makasih han, lho sosok peneduh dalam badai yang menderaku,”ujar bintang dalam hatinya.
“lho baik-baik aja kan bintang?” sapa rohan, yang tiba-tiba duduk disamping bintang.
“ah….yah,makasih yah dah mau bantuin gua,”Jawab bintang sedikit gerogi.
“no problem, oh iya…..lho mau nggak kerja sama gua?”tanya Rohan.
“emang kerja apaan?”jawab bintang penasaran.
“mudah kok, asalkan lho tururutin apa kata gua pasti bisa dapetin uang yang banyak,”Jawab Rohan sambil tersenyum.
“beneran? Tapi gua masih harus pamit ke Ibu dulu,”Pekik Bintang
“okey degh baby, temui aku nanti malem di depan gang rumah lho,jangan pakai kerudung,ngerti?”jawab Rohan sambil melangkah meninggalkan Bintang.
***
Dengan keresahan hati yang mengusiknya, Bintang tidak sabar untuk bertemu Rohan. “betapa cantiknya gua kalau nggak pakai kerudung?” gumam Bintang dalam hatinya ketika melihat wajahnya didepan cermin. Ketika Bintang melangkah keluar rumah, tiba-tiba dia menemukan sepucuk surat dan setangkai bunga mawar, dengan sedikit kaget dan penasaran, lalu Bintang membuka surat itu

To; bintang

Wahai ukhti yang lembut hatinya,betapa indahnya sosok wanita yang setiap senja datang selalu mengusik peringai dalam hatiku. Balutan kain panjang yang tak pernah kau lepas,menambah keindahan senja di sore ini. Maafkan saya yang terlalu lancang mengamati ukhti semenjak sebulan yang lalu, tetapi izinkan saya meskipun hanya sekedar mengagumi dibalik jendela.
                                                                            
Salam
                                                                   Pengagum Bintang
Bintang tersenyum membaca surat itu, tetapi dia penasaran dari mana sebenarnya surat yang barusan membuat hatinya sedikit bergetar.”siapakah pengirim surat ini? Benarkah masih ada orang yang mengagumiku,meskipun dengan segala keterbatasanku,”gumam Bintang dalam hatinya. kemudian, langkah Bintang terhenti untuk pergi meninggalkan rumah, entah apa yang terjadi hatinya merasa resah setelah membaca surat itu.
“han, sorry yah gua nggak jadi yang mau kerja sama lho,”kata Bintang waktu menelpon Rohan.
“tetapi kenapa?”tanya Rohan agak marah. Kemudian Bintang menutup teleponnya.
***
Langit cerah membuat suasana kamar Bintang semakin terang, dengan tergesah-gesah Bintang membuka jendela dan melihat sosok laki-laki di seberang jendela, matanya sayu, wajah sedunya menutupi desiran angin yang menyelimuti tubuh bintang.”benarkah dia pengirim surat yang tadi?”. Gumamnya dalam hati. Ingin sekali mata Bintang berpaling dari cowok diseberang jendela itu, tetapi pada saat mata kedua insan ini bertemu, sepertinya sulit rasanya Bintang berpaling dari sorot mata yang membawa kedamaian. Terlalu lama Bintang asyk berpadu senyuman dengan cowok diseberang jendela itu, akhirnya bintang menutup jendela yang mempertemukan dua hati dalam rima yang meramaikan kekosongan hatinya.
***
Hari demi hari berlalu sepertinya ada benih-benih cinta yang mengusik hati Bintang, perasaanya saat ini hanya membawanya dalam keterpurukan, sosok cowok diseberang jendela itu benar-benar membuat pikirannya kacau. Disatu sisi Bintang merasa terganggu karena cowok itu membuat konsentrasinya menghadapi UN terganggu, tetapi disisi lain hatinya merasa nyaman ketika sorot mata mereka bertemu. “aku tidak bisa seperti ini terus, tak layak seorang hamba menduakan tuhannya, hatiku hanya tertuju padanya,” Kata Bintang seraya mengusap dadanya. Keesokan harinya, Bintang bertekad untuk mencari tahu sosok yang telah mengusiknya akhir-akhir ini, Bintang berusaha mencari identitas cowok itu melalui kak Maya tetangga Bintang yang rumahnya berada disebelah rumah si cowok itu.
“assalamualaikum,”Sapa bintang ketika kak Maya membukakan pintu untuknya.
“waalaikumsalam,ada apa dik tumben main kerumah kakak?”jawab kak Maya, sambil lalu mengajak Bintang duduk.
“hehehe….maaf  kak, Bintang akhir-akhir ini banyak tugas, apalagi UN sudah dekat, jadi harus lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar,” Jawab Bintang sekenaknya.
“iya dik, ngomong-ngomong ada keperluan toh?” tanya kak Maya.
“Hem….maaf ya kak, Bintang ingin menanyakan cowok yang tinggal disebelah rumah kakak, karena akhir-akhir ini Bintang sedikit terusik dengannya,” kata Bintang,sambil lalu menceritkan apa yang telah terjadi padanya.
“Ehm….cowok yang kamu maksud itu mungkin Bang Andi, pindahan dari Jakarta. Dia disini tinggal bersama ibunya, Bang Andi merupakan Mahasiswa Universitas Indonesia yang berhenti gara-gara putus asa waktu mengalami kecelakaan, dan alhasil dokter memfonisnya tidak bisa berjalan lagi,” Jawab kak Maya seadanya.
“hem…terimakasih atas infonya kak,” Jawab Bintang sedikit sedih mendengar cerita kak maya.
“iya dik sama-sama,”jawab kak Maya, sambil lalu mengantarkan Bintang pulang sampai ke depan pintu
***
Sesampainya di rumah, Bintang menemukan sepucuk surat yang berada didepan pintu,dengan sedikit keresahan yang mengusiknya sambil lalu Bintang membaca surat itu
To:Bintang
Mungkin angin malam telah memadukan rasaku padamu, tetapi jika ukhti tidak senang dengan kehadiran saya, saya minta maaf. Berharap setiap ungkapan bisa terbalaskan, saya juga ingin ukhti bisa membalas keresahan yang saya alami.
                                                                             Salam
                                                                   Pengagum Bintang
Bintang benar-benar merasa gelisah, dengan sedikit keraguan, Bintang ingin mengungkapkan semua yang dia rasakan akhir-akhir ini.

To: Kang Andi
Saya minta maaf…..jika saya harus jujur, ketika pertama kali anda datang mengirimkan surat kepada saya, ada sedikit ketentraman dalam hati saya. Tetapi, secara jujur tatapan anda membuat saya terganggu. Saya mohon agar anda berhenti untuk mengusik hati saya.
Salam
                                                                             Bintang
Bintang berharap teguran pertamanya melalui surat yang dikirimkan lewat kak Maya bisa membuat kang Andi berhenti menatapnya lagi. Akan tetapi, setiap Bintang ingin membuka jendela, sosok itu tetap ada dan membuatnya benar-benar merasa terganggu. meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya pernah berlabuh pada hati cowok yang telah mengusik ketenangannya itu. Dengan berat hati, Bintang bermaksud akan menemui Andi secara langsung, karena dia tidak mau hatinya ternoda karena dia merasa masih belum saatnya menaruh hati pada lawan jenisnya.
***
Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Bintang mengambil keputusan untuk menemui Andi. Kaki Bintang terasa berat ketika ibu andi menyuruhnya duduk.
“hem….sepertinya neng bukan teman kuliahnya Andi?”tanya Ibu andi
“Oh…anu buk, saya Bintang tetangga sebelah ingin bertemu Bang Andi,”ujar Bintang.
“sebentar neng…Ibu masih mau memanggil Andi,”jawab Ibu Andi.
Kemudian setelah bayang Ibu Andi tak terlihat lagi, sosok laki-laki yang tak  asing lagi buat Bintang tiba-tiba muncul dibelakngnya.



“ada apa dik?”tegur Bang Andi pada Bintang
“ah…eh….oh….anu Bang, Bintang mau bicara sama abang,”jawab Bintang tertegun melihat kondisi Andi yang ternyata kedua kakinya di amputasi, Bintang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“kenapa dik?tidak perlu merasa kasihan, saya sudah terbyasa dengan kondisi seperti ini,”jawab Andi sambil menyunggingkan senyumnya.
“oh… nggak apa-apa, maksud dari kedatangan Bintang saat ini……,”Bintang ingin menjelaskan maksudnya,tetapi andi langsung memotong penjelasan Bintang.
“tidak usah diteruskan dik,abang tahu kalau adik tidak suka dengan abang, maaf jika abang sudah lancang menatap adik seperti itu,”ujar Andi dengan muka tertunduk.
“hem….sesungguhnya alangkah senangnya hati ini ketika getar rasa itu datang,akan tetapi tuhan tak mengijikan hati ini singgah pada hati lain,karena masih bukan saatnya,”jawab Bintang dengan nada terenga-engah.
“semoga tuhan memberikan adik keberkahan di balik surganya,abang hanya ingin adik menganggap akang sebagai teman yang baru datang dan menantikan sebuah sambutan,”.tutur Andi.
“iya bang, biarkan hati ini berjalan pada tempat yang tepat, terima kasih atas pengertiannya, Bintang pamit pulang dulu,”Bintang melangkah pergi meninggalkan Andi. Setelah itu hari-hari bintang kembali lagi seperti dahulu,tanpa ada hati lain yang mengusik ketenangannya.

         Selesai
***







Tidak ada komentar:

Posting Komentar